– DPP Pertuni Bekali Mahasiswa Tunanetra Masuki Dunia Kerja

Pada tanggal 7 – 15   Agustus 2015, DPP Pertuni, melalui program higher education menyelenggarakan soft skill pre employment training yang diikuti oleh 18 mahasiswa tunanetra dari berbagai universitas di Jakarta. “Dari 18 peserta yang hadir, sebenarnya 3 orang di antaranya telah lulus, namun hingga kini masih belum yakin dengan karir apa yang akan ia tekuni, olehkarenanya, mereka saya ijinkan mengikuti pelatihan tersebut,” tutur Aria Indrawati, Ketua Umum Pertuni.

Suasana Kelas Saat Pelatihan

Ada beberapa alasan mengapa pelatihan ini mengusung tema peningkatan soft skill. Secara umum, banyak generasi muda yang masih kesulitan untuk merencanakan masa depan mereka—apa yang akan dilakukan setelah lulus kuliah, pekerjaan apa yang sebaiknya ditekuni, serta apa saja yang perlu dipersiapkan untuk mencapai pekerjaan idaman tersebut. Oleh karena itu, melalui pelatihan ini, diharapkan para peserta dapat lebih cepat menemukan passion mereka, merencanakan masa depan, serta mewujudkannya sesegera mungkin. Lebih jauh lagi, pelatihan yang dirancang khusus untuk tunanetra tersebut diharapkan dapat mendorong rasa percaya diri peserta, sehingga tak lagi memandang ketunanetraannya sebagai sebuah hambatan untuk berkontribusi dalam masyarakat.

 

Soft skill pre-employment training ini terselenggara atas kerja sama DPP Pertuni dengan Yayasan Mitra Netra dan Fakultas Psikologi Universitas YARSI. Tiga orang trainer dalam pelatihan ini adalah dosen fakultas  psikologi Universitas YARSI, dibantu oleh lima mahasiswa yang bertugas  sebagai fasilitator. Terdapat 9 modul yang diberikan, di antaranya pengenalan konsep diri, perencanaan target masa depan, manajemen waktu, hingga konsep kepercayaan diri dan asertivitas.

 

Materi yang diberikan terbilang sederhana, namun disampaikan dengan cara yang unik. Pada salah satu sesi, peserta diminta mencari kotak makan siang masing-masing. Setiap peserta hanya boleh mengambil kotak makan siang yang ditempeli kertas origami berbentuk bangun geometri yang sesuai dengan yang mereka miliki. Jika seorang peserta memegang bangun geometri berbentuk segitiga, maka ia hanya boleh mengambil kotak makan siang yang ditempeli kertas origami dengan bentuk yang sama. Lewat permainan ini, peserta diajarkan bahwa selalu ada tempat kerja yang pasti membutuhkan keahlian yang kita miliki. Jika belum menemukan tempat yang sesuai, maka kita tidak boleh menyerah untuk menemukannya.

 

Pelatihan juga dilengkapi dengan sesi kunjungan ke beberapa perusahaan. Salah satunya, FIF Group, kelompok PT. ASTRA—salah satu perusahaan terbesar di Indonesia dengan dua puluh ribu karyawan. Pada sesi tersebut, pelatihan dipimpin oleh trainer dari FIF Group yang menjelaskan berbagai macam keterampilan yang dibutuhkan sebagai seorang telemarketer. Dengan sesi kunjungan tersebut, diharapkan peserta dapat memiliki gambaran lebih jelas mengenai bidang pekerjaan yang kelak akan mereka pilih.

 

Mani, M.N.G, CEO dari ICEVI (International Council for Education of People with Visualy Impaired) yang mengunjungi pelatihan, amat terkesan dengan pelatihan ini. “I visited the trainees during their training on the 13th and 14th August and quite impressed with the curriculum, quality of the training, and their exposure to actual work settings,“ katanya.

 

Program Higher Education merupakan salah satu program DPP Pertuni bersama ICEVI. Program ini akan berjalan selama 3 tahun, yaitu tahun 2015-2018. Selama periode tersebut, soft skill pre-employment training direncanakan akan diselenggarakan di lima kota, yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, dan Malang. Bulan Oktober mendatang,  pelatihan serupa akan diadakan di pusat layanan disabilitas UIN sunan kalijaga Yogyakarta. .

 

Dengan berjalannya program pelatihan ini secara berkelanjutan, diharapkan dapat mendorong pengembangan pemuda-pemuda tunanetra di berbagai daerah di tanah air. Bagaimanapun, pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan. Artinya, pembangunan genarasi muda merupakan factor penting untuk memperbaiki kualitas bangsa Indonesia di masa mendatang.   “Saya mengharapkan  alumni pelatihan ini akan menjadi “pasukan elit” dan “agen perubahan” di masyarakat nanti,” tukas Aria.

***

Bagikan ke yang lain

About Author

Leave Comment

Back to top