– Ini Dia, 3 Format Buku yang Aksesibel bagi Tunanetra!

beberapa tumpuk buku di atas meja

buku adalah jendela dunia. Pernyataan tersebut benar adanya. Ketika membaca buku, kita akan mendapatkan banyak sekali manfaat karenanya. Mulai dari ilmu pengetahuan, sumber informasi, memperluas wawasan serta hiburan.

Menilik dari sejarah perkembangannya, buku bermula dari bangsa Mesir yang menuliskan hieroglif pada batu atau daun papyrus. Kemudian di awal abad pertengahan, bentuk buku berubah menjadi codex, yakni lembaran kulit domba terlipat yang dilindungi oleh kulit kayu yang keras. Selanjutnya orang-orang Timur Tengah menciptakan pergamenum atau perkamen hingga mencapai perkembangan yang sangat signifikan dengan ditemukannya kertas oleh orang berkebangsaan Cina yang bernama Ts’ai Lun. Perkembangan perbukuan kemudian ditindaklanjuti dengan penemuan mesin cetak oleh Johanes Gensleich Zur Laden Zum Gutenberg dari Jerman. Teknik cetak Gutenberg dimulai pada abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-20 karena digantikan oleh pencetakan offset yang lebih sempurna.

Kini dengan perkembangan teknologi yang canggih seperti komputer, printer, scanner, mesin penjilid dan pemotong kertas, mencetak buku menjadi semakin mudah dan cepat. Akan tetapi, buku-buku yang dicetak tersebut merupakan buku cetak tinta yang tak bisa diakses oleh penyandang tunanetra dengan keterbatasan penglihatan. Nah, agar seorang tunanetra dapat mengakses buku-buku cetak tinta itu, maka formatnya harus diubah supaya lebih aksesibel bagi mereka. Jadi, jenis buku seperti apa sih yang aksesibel untuk tunanetra? simak yang satu ini!

Baca juga: Meraih Sukses Bersama Braille

1. Buku Braille.

Buku braille merupakan buku yang dicetak dengan huruf timbul berupa kombinasi enam titik yang disebut huruf braille. nama simbol dan huruf timbul ini diambil dari seorang tunanetra penemunya, Louis Braille yang kehilangan penglihatannya sejak berusia 3 tahun. Mulanya huruf braille ini tidak diakui, bahkan di negara tempat Louis dilahirkan, yakni Perancis. Penemuan yang sangat bermanfaat bagi tunanetra di seluruh dunia tersebut, baru diterima setelah Louis Braille meninggal dunia. Pada tahun 2019, PBB menetapkan 4 Januari, tanggal lahir Louis Braille sebagai World Braille Day atau hari braille internasional. Untuk membuat buku braille atau menuliskannya, terdapat 3 cara antara lain:

  • mengetik ulang atau memindai buku cetak tinta dalam file Microsoft Word. Kemudian dikonvvversi menggunakan software braille converter dan hasilnya dicetak menggunakan mesin cetak braille atau braille embosser.
  • mengetik menggunakan mesin ketik braille analog. Mesin ketik braille memiliki tombol 6 titik dan beberapa tombol pelengkap seperti spasi, enter dan lain-lain.
  • Menulis menggunakan alat tulis braille yang disebut dengan reglet dan stylus. Reglet berbentuk dua penggaris yang disatukan dengan sebuah engsel pada salah satu ujungnya. Salah satu sisi reglet terdapat beberapa kotak-kotak dengan kombinasi 6 titik untuk menulis simbol braille. sementara stylus berupa alat tusuk berbentuk paku kecil dengan ujung yang lain berbentuk bulat agar lebih mudah ditekan.

Huruf braille yang timbul memungkinkan seorang tunanetra dapat meraba bentuk-bentuk dari kombinasi 6 titik. cara membaca huruf braille sama halnya seperti membaca huruff latin, yaitu dari kiri ke kanan, namun sebaliknya, jika ingin menuliskan huruf braille, tunanetra akan memulai dari arah kanan ke kiri. Membaca buku braille sangat dianjurkan bagi tunanetra yang baru belajar baca tulis. Hal ini dikarenakan, buku braille dapat membuat tunanetra melatih kepekaan rabaan tangan serta dapat mengeja penulisan kosa kata yang benar, dibandingkan belajar dengan format buku lainnya.

2. Buku Audio.

Pendengaran merupakan salah satu indera yang cukup penting bagi seorang tunanetra. Dengan pendengaran, tunanetra dapat berkomunikasi, mengenali dan menghafal suara orang, serta mengorientasi lingkungan di sekitarnya. Di samping itu, indera pendengaran juga menjadi salah satu cara lain ketika mereka ingin membaca buku. Buku yang dimaksud adalah audio book atau bisa juga disebut dengan buku bicara (digital talking book). Buku audio ini umumnya merupakan rekaman suara seseorang yang membacakan isi buku cetak tinta yang kemudian melalui proses editing sedemikian rupa, sehingga dapat dinikmati oleh tunanetra seperti halnya membaca buku fisiknya. Keuntungan dari format audio book ini adalah lebih praktis dan bisa dibawa ke mana saja dibandingkan buku cetak braille. adapun perkembangan format audio book sebagai berikut.

  • Berbentuk kaset pita yang dapat diputar dengan tape recorder atau walkman. Saat ini format kaset pita telah ditinggalkan seiring dengan perkembangan teknologi dan banyaknya orang yang tidak lagi menggunakan tape recorder.
  • Compact Disc (
    CD). Bentuk CD sampai saat ini masih terus digunakan, mengingat alat pemutarnya, seperti DVD player atau DVD room pada laptop/komputer juga masih banyak digunakan.
  • Soft file, seperti MP3, Wav, M4A dan sebagainya. File audio book seperti ini umumnya diunduh dan dapat diputar pada ponsel pintar, baik secara luring maupun daring pada aplikasi tertentu.

Baca juga: Merayakan Hari Braille 4 Januari 2020: Anak-anak Tunanetra, Ayo Sekolah!

3. Buku Elektronik

Buku elektronik merupakan format buku cetak tinta yang diconvversi menjadi format digital. Biasanya proses konversi ini dilakukan dengan cara mengetik ulang buku cetak tinta atau memindainya dengan scanner. Setelah melalui proses digitalisasi, bentuk buku elektronik memiliki format jpeg, pdf, ePub dan masih banyak lagi. Buku elektronik ini dapat diakses dengan perangkat, seperti komputer, tablet dan smart phone, atau alat pemutar buku  yang disebut dengan text player yang dikhususkan untuk penyandang tunanetra. nah, di samping buku elektronik yang merupakan konversi buku cetak tinta, ada juga buku elektronik yang diproduksi tanpa versi cetaknya. Umumnya e-book seperti ini dikomersialkan untuk dibaca pada perangkat atau aplikasi khusus, seperti e-reder.

Buku elektronik berisi teks, gambar atau kedua-duanya. Bagi mereka yang tunanetra, buku elektronik yang berisi teks adalah format e-book yang paling aksesibel. Tunanetra membaca buku elektronik dengan bantuan software pembaca layar yang tersedia pada ponsel pintar atau yang ter-install di komputer mereka, dan pembaca layar hanya bisa membacakan tampilan berupa teks. Lalu bagaimana dengan buku elektronik yang berbasis gambar atau foto? Software pembaca layar tidak dapat mengakses file e-book berformat jpeg, pdf atau format berbentuk image lainnya. Oleh karena itu, meski saat ini sudah banyak buku elektronik yang diperjualbelikan secara luas, namun tetap saja ada yang kurang aksesibel bagi tunanetra. padahal jika tersedia format buku elektronik yang aksesibel, tunanetra dapat mendapatkan manfaat dari segi kepraktisan dan kemudahan membacanya di mana saja.

Membaca memiliki manfaat yang sangat banyak, tak terkecuali bagi tunanetra. dengan membaca maka seseorang akan dapat melihat dunia dari jendela pengetahuan sebuah buku. Untuk itu, dengan adanya berbagai buku yang aksesibel bagi tunanetra, maka mari terus mendorong minat baca dan tingkatkan kualitas SDM seluruh Kawan Pertuni di seluruh Indonesia!

*Andika Firnanda

Kontributor Bandung

Bagikan ke yang lain

About Author

Leave Comment

Back to top