– Membangun Soft Skill Perempuan Tunanetra: Mengurai yang Abstrak Menjadi Kata

wanita pebisnis mengenakan blazer dan sedang melipat tangan depan dada

Pada 26 dan 27 November 2021, DPP Pertuni yang didukung oleh Disability Rights Fund (DRF) sukses menyelenggarakan sebuah kegiatan pemberdayaan perempuan tunanetra bertajuk “Belajar Bersama Membangun Soft Skill untuk Perempuan Tunanetra”. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini dirancang khusus bagi pengurus dan anggota Pertuni Sulawesi Utara yang juga dihadiri oleh peserta dari daerah lain, seperti Provinsi Aceh, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Bangka Belitung.

“Untuk mencapai kesuksesan hidup, baik itu di sektor domestik maupun karir, kita tidak hanya membutuhkan hard skill, tapi kehidupan ini membuktikan bahwa kesuksesan itu justru ditentukan oleh kualitas soft skill kita, attitude kita,” papar Aria Indrawati, Ketua Umum Pertuni saat sesi pembukaan. “Diharapkan lima hingga sepuluh tahun ke depan, kualitas perempuan-perempuan tunanetra Indonesia akan terus meningkat, akan ada lebih banyak perempuan-perempuan tunanetra indonesia berkarya di masyarakat, eksis di masyarakat, berperan, dan menjadi figur-figur yang menginspirasi lingkungan masing-masing,” lanjutnya.

Pemantik yang juga berperan sebagai mentor dalam pelatihan ini terdiri dari dua orang, masing-masing mengisi hari yang berbeda. Yang pertama adalah Juwita Maulida, Ketua Departemen Pemberdayaan Pemuda, Mahasiswa , dan Pelajar DPP Pertuni. Di hari kedua yang menjadi narasumber adalah Nuning Purnamaningsih, seorang penyiar radio, akademisi, dan mentor di berbagai pelatihan komunikasi.

Baca juga: Aryani Sri Ramadhani, Jadikan Berbisnis Sebagai Jalan untuk Bermanfaat Bagi Sesama

Pada kegiatan hari pertama, sesi belajar diisi dengan topik “Belajar Mengenal dan Memahami Diri Sendiri”. Mula-mula Juwita menjelaskan secara singkat bagaimana manusia sering kali menghabiskan waktu lebih banyak untuk mengenali orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Dari sini, para peserta dituntun untuk mampu mengidentifikasi dirinya lewat tiga ungkapan sederhana yang mewakili kepribadian masing-masing. Berikutnya, Juwita yang jjuga berperan sebagai fasilitator kegiatan mendorong para peserta untuk lebih jauh mengenal perasaan mereka dengan mengungkapkan emosi terdalam secara terstruktur dalam bentuk “surat cinta. Metode menulis surat ini merupakan cara agar seseorang dapat menyadari berbagai emosi yang dirasakan, menyelurkannya dengan lebih positif, serta memahami keinginan dan kebutuhan diri sendiri. Hal ini bertujuan agar para perempuan tunanetra dapat mengurangi atau bahkan mungkin menyembuhkan luka dan emosi negatif yang selama ini terus dipendam hingga memengaruhi kepercayaan diri mereka.

Di tengah-tengah sesi, dua orang pembicara tamu turut mengisi diskusi. Sebelum istirahat siang, Synthia Montolalu hadir untuk berbagi pengalamannya. perempuan tunanetra asal Manado ini merupakan sosok yang mandiri dan juga memiliki pencapaian sebagai ketua DPD Pertuni Sulawesi Utara, sebelum akhirnya harus merantau dari Manado ke Jakarta. kehadiran Synthia diharapkan dapat memberikan suntikan semangat bagi para peserta diskusi. Pembicara tamu kedua adalah Hadianti Ramadhani, asal Depok yang saat ini menjabat sebagai Ketua IV DPP Pertuni. Ia menceritakan tantangan yang pernah dihadapinya untuk merintis karir sebagai seorang penulis konten.

Pada sesi belajar di hari kedua dengan topik “Membangun Kemampuan Komunikasi Individu dan Publik”, Nuning menjelaskan berbagai hal yang dapat memengaruhi efektivitas komunikasi antara seorang individu dengan individu lain maupun kelompok. Beberapa factor yang dimaksud antara lain, etika berbicara, perbedaan budaya dan nilai, bahasa dan diksi, gestur dan sikap tubuh, serta intonasi dan kecepatan berbicara.

Baca juga: DPP Pertuni Selenggarakan Sosialisasi Online Standar Kompetensi Kerja Masir Tunanetra

Pada sesi ini, para peserta mendapat giliran satu per satu untuk melakukan pengenalan diri singkat yang disambung dengan pemaparan situasi kehidupan tunanetra di daerah masing-masing. Presentasi tersebut kemudian dievaluasi  kualitas penuturannya oleh pemantik. Meskipun pada awalnya peserta pelatihan banyak yang mengalami kesulitan dalam menyampaikan perasaan dan pikiran mereka secara terstruktur, seiring dengan suasana diskusi yang semakin akrab dan kondusif tiap peserta pun mulai mampu melampaui batasan-batasan pada diri mereka. Hal ini terlihat dari cara bertutur yang mulanya kikuk dan takut menjadi lebih santai dan lugas.

Sampai saat ini, di badan organisasi Pertuni sendiri masih terjadi kesenjangan yang signifikan antara jumlah partisipasi laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, kegiatan pemberdayaan perempuan ini merupakan bentuk komitmen dari DPP Pertuni untuk meningkatkan kemampuan dan minat tunanetra Indonesia, khususnya perempuan, dalam melakukan kegiatan di masyarakat. Dengan diadakannya kegiatan semacam ini, diharapkan nantinya keterlibatan dan partisipasi dari perempuan-perempuan tunanetra dapat berkembang di organisasi Pertuni, maupun di lingkungan masyarakat pada umumnya.

*Deanita Adharani, Kontributor Jakarta

Editor: Juwita Maulida

Bagikan ke yang lain

About Author

Leave Comment

Back to top