Berdasarkan hasil Seleksi Nasional Onkyo Braille 2016, terdapat 5 karangan terbaik yang lolos ke seleksi tingkat Asia Pasifik, salah satunya karya Romauli Butar Butar dari Bandung.
Braille, Kunci Kesulitanku
Bayangan hidup irasional telah tertinggal jauh di belakangku. Simponi hari ini menyempurnakan hidup yang kemarin. Segala perjuangan teruntai menghitung titian kaki menggapai prestasi hari esok. Aku dan mimpiku telah tiba pada suatu episode pemaknaan diri yang sesungguhnya.
Eksistensi para disabilitas netra disambut baik oleh modernisasi dunia. Kehadiran teknologi yang senantiasa berkembang dan inovasi-inovasi terbaru menjadi bagian dari prestasi para disabilitas netra yang bertekad mengubah persepsi masyarakat kontemporer. Para disabilitas netra pun dibekali pengetahuan dan keterampilan sebagai modal dasar atau media utamma untuk dapat berkarya meski tanpa mata.
Huruf Braille adalah Salah satu media identitas yang perlu dikuasai oleh disabilitas netra. Para disabilitas netra mengawali pendidikannya dengan mengenal Huruf Braille. Huruf Braille menyempurnakan keterbatasan hidup, seolah menghapus segala stigma masyarakat terhadap kehadirannya di tengah persaingan dunia.
Aku bersyukur untuk temuan Huruf Braille yang diabadikan Louis Braille sebagai sebuah karya terbesar untuk menyempurnakan keterbatasan disabilitas netra di muka bumi. Huruf Braille turut mengubah duniaku. Aku dapat mengecap pendidikan formal sejajar dengan pelajar awas, membaca buah pikiran yang terangkum dalam karya-karya tulisan, menuangkan ide atau perasaanku dan mengenal dunia lewat variasi titik-titik sederhana di ujung jari-jari tanganku.
Hampir dalam setiap dimensi perjuangan hidupku tidak terpisahkan dari peran Huruf Braille. Sejak aku menguasainya, media ini menjadi identitas diri yang senantiasa kuperkenalkan kepada masyarakat luas. Ketika belajar, berekspresi, bersosialisasi, melakukan orientasi lingkungan, berkarya dan hal-hal lainnya, aku melibatkan Huruf Braille sebagai jembatan pikiran dan perasaanku dengan dunia luar.
Setiap melakukan presentasi di depan kelas, aku tidak lupa membawa alat tulis braille dan materi presentasi yang sudah kusalin dalam tulisan Braille. Sambil menampilkan materi presentasi melalui komputer bicara di depan audience, aku menggunakan alat tulis braille untuk menulis notula presentasi, sehingga dengan mudah aku dapat membaca daftar pertanyaan yang diajukan dan hasil refleksi yang diperoleh tanpa harus mengganggu tampilan materi presentasi di komputer bicara. Jam tangan Braille pun turut membantuku mengelola waktu selama berada di depan kelas. Huruf braille juga membantuku saat menulis notula rapat agar mudah membacakannya kembali sebagai refleksi pertemuan.
Aku menyadari bahwa belum semua fasilitas umum menyediakan petunjuk yang aksesibel dan layanan lembaga yang inklusif bagi masyarakat disabilitas netra. Dengan caraku sendiri, aku berusaha mengenali atau menentukan klue suatu tempat yang akan dituju atau benda yang kugunakan. Dengan sengaja aku meminta bantuan orang awas yang ada di sekitarku untuk menolongku menunjukkan atau menjelaskan ruangan atau benda yang kucari. Ketika memasuki tempat dan menyentuh benda yang ditunjukkan, aku berusaha mengenali daerah sekitar dan bentuknya agar memperoleh klue yang dapat kugunakan sebagai petunjuk. Ingatan dan kepekaanku menjadi modal untuk mengenali setiap medan mobilitas yang kulalui.
Gagasan itu cukup membantu bagiku, akan tetapi kurang relefan karena dapat merusak estimasi waktu dan mengurangi nilai estetika jika sedang berada di fasilitas umum yang ramai atau ruangan formal dan tempat sakral. Saat hendak menuju suatu ruangan yang baru di gedung yang terdapat lebih dari 10 ruangan, aku cenderung sulit memperkirakan klue yang tepat dari ruangan tersebut. Berulang kali aku gagal menemukan klue dari setiap ruang di gedung tersebut sehingga sering kali aku keliru memasuki ruangan yang ingin kutuju. Demikian pula dengan benda-benda yang bertekstur sejenis, aku sering keliru membedakan satu dengan yang lainnya saat akan kugunakan. Kesalahan-kesalahan seperti itu menjadi evaluasi terpenting terhadap kegiatan orientasi dan mobilitasku yang semakin lambat, apalagi jika terjadi kekeliruan yang fatal dan berakibat buruk bagiku maupun lingkungan sekitar. Beberapa kali aku melakukan kesalahan saat menyusun benda-benda yang seharusnya tertata sesuai urutan, akan tetapi menjadi tidak beraturan.
Huruf Braille merupakan solusi dari kesulitan yang kualami. Aku harus mempersingkat orientasi dan mobilitasku dengan menghadirkan Huruf Braille di setiap permukaan pintu ruangan ggedung tersebut agar tiba tepat sasaran. Demikian pula pada pintu lemari, meja belajar di kelas atau properti lainnya dengan jumlah banyak, perlu ditempeli dengan Huruf braille agar mempermudah untuk mengenalinya. Aku juga sengaja menempelkan tulisan Huruf Braille pada map-map pelajaran milikku sehingga mempermudah dan menghindari kekeliruan saat akan menggunakannya.
Suatu hari aku tertarik untuk menekuni sebuah kreatifitas karya tangan, akan tetapi proses pembuatannya membutuhkan variasi warna-warna yang dikombinasikan agar lebih menarik. Aku mencobanya dengan bantuan orang awas yang akan membimbingku menggunakan variasi warna-warnanya. Beberapa kali aku gagal menyelaraskan bahan-bahannya dan aktivitas itu sangat bergantung kepada pendampingan orang awas. Aku menjadi putus asa dan menyesali kondisiku yang tidak memiliki sisa penglihatan untuk dapat mengenali warna-warna yang akan kugunakan dalam hasil karya tangan tersebut.
Aku berpikir keras mencari ide agar tidak bergantung pada orang awas ketika akan membuat kreatifitas karya tangan tersebut. Hal itu kulakukan untuk memaksimalkan waktuku menciptakan hasil karya tangan yang lebih baik lagi. Akhirnya aku mensiasati dengan mengumpulkan beberapa box, kemudian memisahkan bahan-bahan karya tangan tersebut ke dalam masing-masing box. Aku mencantumkan kertas yang telah kutulis dengan Huruf braille sesuai nama-nama warna pada setiap box. Segalanya menjadi lebih mudah sehingga aku dapat mengerjakannya tanpa menunggu seseorang mendampingiku untuk mengawasi ketepatan warna-warna bahan yang akan kugunakan untuk menyelesaikan karya tangan tersebut.
Dengan Huruf Braille pun aku berusaha menciptakan kesempatan atau peluang prestasi. Ketika diadakan lomba pidato, membaca indah dan presentasi hasil karya ilmiah di kampusku, aku mencoba mengikutinya. Awalnya panitia pelaksana meragukan permohonanku untuk mengikuti event tersebut, akan tetapi aku berusaha mensosialisasikan huruf braille sebagai media yang akan kugunakan, dengan harapan usaha tersebut dapat dipertimbangkan dan diterima. Aku berharap bukan hanya kesempatan yang kuperoleh tetapi juga peluang mengubah cara pandang orang-orang di sekitarku tentang huruf Braille sebagai suatu cela bagi disabilitas netra untuk dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan tertentu.
Segala upaya yang kulakukan merupakan bukti bahwa disabilitas netra harus kreatif dan tanggap mengisi kekosongan pemahaman masyarakat umum yang masih sulit menyatukan persepsi terhadap kekhususan yang dibutuhkan para disabilitas netra. Aku tidak mungkin menunggu sampai kapan lingkungan menyempurnakan fasilitas umum yang aksesibel untukku akan tetapi aku ingin memulainya sebagai motif awal masyarakat menyediakannya untukku. Destinasi terpenting sebenarnya terletak pada kreativitas disabilitas netra menggunakan segala yang dimilikinya sebagai kunci peluang kemungkinan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang ada, bukan harus menuntut masyarakat berbuat sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan para disabilitas. Harapan besarku menyuarakan pencapaian itu secara perlahan sehingga dapat mendorong masyarakat turut menyempurnakan revolusi eksistensi disabilitas netra.